Jumat, 04 Desember 2015

0

Alamat Penjual Abon Gulung Khas Manokwari Di Jayapura Papua


Papua, pulau di ujung timur Indonesia ini selain kaya akan keanekaragaman budaya, ia juga mempunyai berbagai macam makanan khas Bukan hanya papeda, ternyata Papua juga terkenal dengan kue sagunya (akusa). Berbagai jenis kue kering dibuat menggunakan bahan dasar sagu, seperti bagea (yang hampir sama dengan makanan khas Ambon) dan kue kering lainnya, yang rasanya tak kalah enaknya. Dan Bagi Anda yang berkunjung di Papua khususnya di kota Jayapura dan belum mengetahui Alamat atau Tempat yang menjual Abon Gulung Khas Manokwari berikut ini beberapa tempat yang bisa ada datangi jika berkunjung di Kota Jayapura

Abon Gulung Hawai Bakery

1. Dalam Bandar Udara Sentani (seblah counter Airport Tax)
2. Jln. Raya Sentani Hawai Kabupaten Jayapura Papua
3. Kompleks Ruko Jayapura Pasifik Permai Dok II Blok C No. 6 Jayapura Papua Hp. 085244137987 Hotline Service : 08124833188

Abon Gulung Manokwari Bakery

1. JL. Sam Ratulangi APO Samping Indosat Depan Kantor Perhubungan
2. Depan Mall Ramayana Abepura (Mobile Manokwari Bakery)
3. Jalan Raya Sentani Depan Bandara Dekat Lampu Merah (Mobile Manokwari Bakery)
4. Dalam Bandara Sentani (Di Cafe Onix)

Rabu, 14 Oktober 2015

0

Festival Bahari Teluk Tanah Merah ( FBTTM ) 2015


Untuk memperkenalkan keindahan alamnya yang sangat mempesona, Pemerintah Kabupaten Jayapura akan menggelar Festival Bahari Teluk Tanah Merah (FBTTM) pada  24-26 Oktober 2015 mendatang. Meski belum sepopuler Danau Sentani, teluk yang menghadap Samudra Pasifik ini menawarkan sebuah pemandangan pantai dan lautnya yang indah. Selain itu, para wisatawan juga akan disuguhkan budaya masyarakat yang eksotis saat berkunjung ke sana.

Acara ini nantinya akan menjadi salah satu agenda wisata tahunan Kabupaten Jayapura, selain Festival Danau Sentani (FDS) yang telah menjadi ikon pariwisata kabupaten ini sejak 2008.  Pantai Amai yang terletak di Distrik Depapre, akan dijadikan sebagai pusat kegiatan FBTTM ini. Di pantai ini, akan diadakan berbagai perlombaan dan aktivitas bahari seperti lomba menyelam, lomba foto bawah laut, atraksi dayung perahu tradisional, dan suguhan tari-tarian khas pesisir. Salah satu atraksi budaya yang akan ditampilkan di festival ini adalah tarian di atas perahu yang menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir Jayapura, diiringi dengan lagu tradisional. Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, mengatakan festival ini bertujuan mengangkat potensi alam dan budaya masyarakat di sekitar teluk ini sebagai salah satu aset pariwisata daerah. "Dengan begitu, pariwisata di daerah ini bisa hidup. Masyarakat adat pun bisa melestarikan dan mengembangkan budaya mereka," ucap Mathius.

Kata Mathius, masyarakat pesisir memiliki pola hidup yang berbeda dengan masyarakat di kawasan Danau Sentani. Ini juga menjadi salah satu yang menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Teluk Tanah Merah ini. "Di festival ini, kita akan menyaksikan seperti apa aktivitas mereka di atas laut dan di bawah laut. Juga ada beberapa tempat yang di kawasan pesisir ini yang akan kami publikasikan, termasuk keindahan alam bawah lautnya," katanya.

Selain Pantai Amai, para wisatawan Teluk Tanah Merah ini juga bisa menikmati Pantai Harlem yang airnya sangat jernih dan berwarna kehijau-hijauan dengan pasir bersih tanpa kerikil. Tak jauh dari bibir pantai, pemandangan aneka jenis biota laut dan ikan-ikan berukuran kecil juga bisa dinikmati. Selain bersih, pantai ini menawarkan kolam air tawar yang jaraknya hanya sekitar tujuh meter dari bibir pantai. Danau yang konon terbentuk secara alami sejak ratusan tahun lalu ini menjadi tempat hidup beberapa jenis ikan.

Ada juga Pantai Tablanusu yang memiliki keunikan lain lagi. Pantainya berupa hamparan batu koral hitam yang ketika diinjak akan mengeluarkan suara seperti orang menangis. Itu sebabnya desa ini juga dijuluki Desa Batu Menangis. Laut Tablanusu dengan airnya yang jernih pun menyimpan keindahan terumbu karang dan ikan-ikan kecil.

Sepenggal kisah Perang Dunia II pun tak boleh dilewatkan ketika menginjakkan kaki di Teluk Tanah Merah ini.  Di teluk inilah tentara sekutu di bawah komando Jenderal Douglas MacArthur—salah satu legenda perang Amerika Serikat—pertama kali menginjakkan kaki di tanah Papua. Ini bisa dibuktikan dari sejumlah peninggalan, antara lain tangki-tangki penyimpanan bahan bakar, landasan meriam, dermaga bekas pendaratan tentara sekutu, bangkai kapal di dasar lautan, juga bunker yang konon digunakan tentara Jepang untuk berlindung.

Penutup festival ini adalah tarian penjemputan Injil di Pulau Metu Debi. Tarian ini merupakan peringatan terhadap para pendahulu masyarakat Jayapura yang telah memperkenalkan kepercayaan terhadap Tuhan. Jadi, tunggu apa lagi, datang dan nikmatilah semua daya tarik kawasan pesisir Jayapura di FBTTM 2015.

Jumat, 09 Oktober 2015

0

Alamat Penjual Batik Papua


Anda yang berkunjung ke Papua dan berminat berbelanja batik corak khas papua tetapi masih bingung di mana tempat Toko yang menjual batik papua berikut ini beberapa tempat atau Toko yang anda bisa datangi semoga sedikit bisa membantu anda.

Toko Aneka Batik Papua
Cabang Jayapura
1. Ruko Baru Depan Gelael Jln. Halmahera Telp. (0967) 523489
2. Jln. Samudra Maya No. 36 (Belakang Pompa Bensin) Dok V Bawah Jayapura Telp. (0967) 533929
3. Mall Jayapura Lt. 6F 14
Cabang Kota Raja
Jln ,Raya Abepura Kotaraja (Depan Kantor Kehutanan) Telp. (0967) 582335
Cabang Sentani
Jln. Raya Hawai Sentani Telp. 593521

Toko Batik ILham
Cabang Jayapura
1. Jln. Raya Argapura No. 14 Jayapura - Papua Telp. (0967) 535002 / 534479 Hp. 085230016783
2. Jln. Ahmad Yani II No. 20 Jaypura - Papua Sampin Apotik Medika. Hp. 087779999805
3. Jln Raya Abepura depan GOR Kotaraja Abepura
Cabang Sentani
Jln. Raya Sentani Flavouw (pojok) Sentani Papua Hp. 085226571561
Cabang Timika
Ruko Jln. Belibis No. 11 (depan Bank Mandiri) Timika - Papua
Cabang Sorong
Jln. Ahmad YaniNo. 95 remu Sorong Papua Telp. (0951) 325300 Hp. 085254568015
Cabang Merauke
Jln. Prajurit II No. 18 Merauke Papua Telp. (0971) 325960
Cabang Manokwari
Jln, Yos Sudarso Sanggeng Manokwari Papua Barat Telp. 087779999805
Cabang Biak
Kompeks Ruko Papua Mandiri Jln. Imam Bonjol  (Samping Bank Danamon) Biak Papua
Telp. 087779999805

Toko Batik Q-Torang
Jln. Pasifik Permai Blok. B No. 2Ruko Dok II Jayapura Telp. 08122783863 - 085244070547

Demikian Beberapa Toko (tempat) yang menjual Batik Papua dan bagi Anda yang membutuhkan Rental Mobil untuk wilayah Sentani, Abepura, Jayapura bisa menghubungi Kami sekarang juga di Rental Mobil Sentani Telp. 081344282920 (melayani SMS)

Kamis, 01 Oktober 2015

0

Sekilas Buah Matoa Dari Papua Dan Manfaatnya


1. DESKRIPSI DAN DISTRIBUSI
Matoa (Pometia pinnata) adalah tanaman buah asli khas Papua, Matoa berasal dari keluarga (family) rambutan (Sapindaceae). Matoa sebenarnya tumbuh liar di hutan-hutan Papua, sejenis tumbuhan pohon besar, tinggi pohon rata-rata 16 meter dengan diameter rata-rata maksimum 90 cm. Matoa berbuah sekali dalam setahun, berbunga pada bulan Juli hingga Oktober. Matoa merupakan buah musiman yang berbuah pada bulan September-Nopember. Distribusinya di Papua terdapat di seluruh wilayah dataran rendah hingga ketinggian ± 1200 m dpl. Tumbuh baik pada daerah yang kondisi tanahnya kering (tidak tergenang) dengan lapisan tanah yang tebal. Iklim yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang baik adalah iklim dengan curah hujan tinggi (>1200 mm/tahun). Matoa terdapat juga di beberapa daerah di Maluku, Sulawesi, dan Papua New Guenea serta di daerah tropis Australia. Kini buah matoa juga terdapat di pulau Jawa (introduksi).
Di Papua terdapat 2 jenis matoa, yaitu matoa kelapa dan matoa papeda. Matoa Kelapa tekstur daging buahnya agak kenyal seperti rambutan aceh, diameter buah 2,2-2,8 cm dan diameter biji 1,25-1,40 cm. Sedangkan Matoa Papeda tekstur daging buahnya agak lembek dan lengket dengan diamater buah 1,4-2,0 cm. Tanaman ini mudah beraptasi dengan kondisi panas maupun dingin. Pohon ini juga tahan terhadap serangga, yang pada umumnya merusak buah.
Buah matoa memiliki rasa manis (manis legit) beraroma campuran antara rambutan, durian, dan kelengkeng. Bentuk buahnya lonjong, seukuran buah pinang (keluarga Palem), ketika muda berwarna hijau dan setelah matang berwarna hijau kekuningan atau coklat kemerahan atau kehitaman.
Referensi:
Beberapa sumber bacaan


2. MANFAAT BUAH MATOA
Buah matoa dapat dikonsumsi segar dan memiliki rasa seperti gabungan antara rambutan, durian dan kelengkeng yang tentu saja membuat buah ini sangat lezat. Karena rasanya yang enak, buah ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Buah matoa kaya akan vitamin C dan E, dan buah ini juga kaya akan kandungan glukosa jenuh, sehingga jika terlalu banyak mengkonsumsinya akan menyebabkan agak pusing (teler).
Vitamin C dan E dalam buah matoa bermanfaat sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas yang menyerang system kekebalan tubuh yang bisa merusak serta menggerogoti sel-sel tubuh. Vitamin C juga bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan berbagai macam penyakit. Vitamin E dalam buah matoa juga dapat membantu meringankan stress, meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan kesuburan wanita serta meminimalkan resiko terserang penyakit kanker serta penyakit jantung koroner. Vitamin E dalam buah matoa juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kulit dengan cara menjaga serta meningkatkan kelembaban serta elastisitas kulit. Bersama-sama dengan beberapa senyawa fitokimia yang terkandung dalam buah matoa, vitamin E ini mampu meningkatkan regenerasi sel-sel kulit.

Sabtu, 29 Agustus 2015

0

Pesona Danau Sentani dari Negeri Mutiara Hitam

Sentani di Negeri Mutiara Hitam

Latar Belakang dan Sejarah
Terbentang antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Papua, Danau Sentani adalah danau terbesar di Papua. Di danau ini juga terdapat 21 buah pulau kecil menghiasi danau yang indah ini. Danau ini merupakan rumah bagi setidaknya 33 jenis ikan, yang hampir separuh dari mereka adalah asli danau ini. Danau ini sudah dikelola menjadi objek wisata karena berjarak 50 kilometer dari Jayapura dan mudah dijangkau. Arti kata Sentani berarti "di sini kami tinggal dengan damai”.
Nama Sentani sendiri pertama kali disebut oleh seorang Pendeta Kristen BL Bin ketika melaksanakan misionaris di wilayah danau ini pada tahun 1898. Danau Sentani dan sekitarnya dahulu merupakan tempat pelatihan untuk pendaratan pesawat amfibi. Landasan ini dibangun oleh Jepang yang kemudian diambil alih oleh Angkatan Darat AS pada tahun 1944. Legenda perang Amerika, Jenderal McArthur dikatakan pernah tinggal di danau dan di 22 pulau di dalamnya.

Daya Tarik
Menaiki perahu di danau merupakan pengalaman yang indah, Anda bisa menyewa kapal motor yang ada di dermaga Pantai Khalkote.
 Di desa Taturi, lukisan batu adalah suatu keajaiban yang layak dikunjungi. Terletak di sebuah bukit kecil di tepi danau, Anda bisa menikmati batu ini sambil berperahu.
Desa lain yang menawarkan pemandangan indah adalah Doyo Lama, tempat seni lukisan batu. Danau ini adalah titik awal yang fantastis untuk memahami budaya Papua.
Di danau ini juga diadakan Festival Danau Sentani yang biasanya diadakan pada pertengahan bulan Juni tiap tahun. Festival ini diisi dengan tarian-tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, upacara adat seperti penobatan Ondoafi, dan sajian berbagai kuliner khas Papua.

Transportasi
Jarak dari Bandara Sentani ke Danau Sentani sangat dekat, hanya sekitar 10 menit dengan perjalanan darat. Anda bisa menyewa mobil untuk memudahkan berkeliling.

Ada penyewaan mobil tersedia di bandara. Pilihan lain adalah naik angkutan umum yang ada di pintu masuk bandara atau naik taksi. Ojek juga bisa menjadi pilihan transportasi.

Akomodasi
Anda bisa menginap di hotel kelas melati. Ada sekitar 16 hotel di Sentani. Untuk kelas melati, tarif kamar per malam mulai dari Rp 250.000.

Atau, untuk mendapatkan pengalaman lebih, Anda bisa menginap di rumah penduduk dari kampung-kampung yang tersebar di Danau Sentani. Sebagian besar dari penduduk yang menetap di Danau Sentani biasa menyediakan kamar untuk wisatawan atau homestay.  Beberapa hotel berbintang empat bisa Anda temukan di Kota Jayapura dengan lama satu jam perjalanan ke Sentani.

Kuliner
Rasanya tidak lengkap jika Anda belum mencoba papeda, bubur dari sagu yang dijadikan sumber kabohidrat layaknya nasi. Sementara untuk lauknya adalah kuah kuning ikan. Pilih ikan gabus yang berasal dari Danau Sentani.

Tips
Pilihan lainnya untuk menjelajah Danau Sentani adalah kapal pesiar atau Onami Cruise yang bisa menampung 30 orang. Untuk naik kapal pesiar ini, hubungi biro perjalanan setempat.
0

Mencicipi Santapan Khas Papua

Makanan khas Papua memang masih jarang kita lihat di luar daerah itu sendiri. Namun, seperti keindahan alam dan budaya Papua, kulinernya unik, menggugah dan tidak akan dapat Anda temui di daerah lain di Indonesia.  Berikut makanan yang harus Anda coba jika bertandang ke Papua.
Papeda Ikan Kuah Kuning
Papeda adalah bubur dari sagu. Seperti halnya daerah bagian timur Indonesia, di Papua, Sagu merupakan sumber karbohidrat utama. Papeda yang kenyal biasanya dipadukan dengan ikan kuah kuning yang rasanya asam.
Kuah dari ikan kuah kuning di buat dengan menggunakan kunyit sehingga warnanya menjadi kuning dan gurih serta campuran dari jeruk nipis atau belimbing wuluh yang menghasilkan sensasi kuah yang begitu segar dan nimat dari rasa asamnya.


Ikan yang paling bagus untuk membuat ikan kuah kuning adalah ikan Gabus. Tetapi ada juga yang menggunakan Ikan Kue dan Kakap Merah. Biasanya Papeda Kuah Kuning akan dilengkapi dengan kehadiran sayur buah pepaya atau sering disebut sayur Ganemo. Sayur ini terbuat dari daun muda melinjo yang ditumis dengan bunga pepaya.
Hidangan ini bisa didapati di Restoran Yougwa, Sentani.
Ulat Sagu
Nah yang satu ini memerlukan nyali lebih ketika menyantapnya. Ulat Sagu, sesuai namanya, hidup di batang pohon sagu yang tumbang secara alami dan membusuk. Kandungan protein didalam larva kumbang kepala merah ini sangat tinggi, namun karena bentuknya yang seperti belatung raksasa, kebayakan wisatawan menghindarinya. Teksturnya sendiri kenyal seperti kalau kita memakan usus ayam.
Ulat sagu biasanya dimakan mentah atau bisa juga digoreng dengan cara biasa. Kadang ulat sagu ini bisa dijadikan sate juga. Karena makanan ini termasuk langka, tidak semua tempat di Papua ada.
Ikan Asar
Ikan asar ini adalah ikan asap yang dipanggang dengan mempergunakan bambu atau kayu, biasanya ikannya dibelah menjadi dua kemudian dijepit dengan bambu sebagai pembakarnya.


Untuk mendapatkan ikan asar, sebenarnya bisa mendatangi pasar tradisional di Papua. Tapi, bila ingin mencari yang murah maka sambangi saja pasar mama mama Papua yang ada di Jayapura.
Udang Selingkuh
Udang Selingkuh merupakan hewan endemik sungai Baliem. Dinamakan selingkuh karena ia memiliki capit besar, jadi terlihat seperti hasil perselingkuhan udang dan kepiting. Udang Selingkuh biasanya dihidangkan dengan saus tiram, saus asam manis, saus padang atau saus mentega.


Paling tidak ada 5 restoran di Wamena yang menyediakan udang selingkuh. Untuk harga, kuliner yang satu ini harganya cukup mahal, per porsinya bisa mencapai 100.000 rupiah.
0

Lukisan Kulit Kayu, Goresan Kehidupan Masyarakat Asei Sentani


Sentani, Melukis diatas lembaran kulit kayu, merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di sebuah pulau di tengah Danau Sentani, Papua. Di pulau kecil yang bernama Asei ini, sedikitnya 70 kepala keluarga menetap sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Traveling ke Danau Sentani belum lengkap kalau membawa buah tangan atau cenderamata khas pulau besar Asei yaitu Lukisan lembaran Kulit Kayu. Selain bentuknya unik juga mengandung makna filosofi yang mendalam.

Bagi masyarakat Sentani, Papua, seni lukis tidak sekadar sarana mengekspresikan nilai estetika. Lebih dari itu, seni lukis dengan lembaran kulit kayu sebagai media sarat simbol budaya setempat. Puyakha puyakhapu adalah sebutan Danau Sentani. Puyakha berarti ciri nyata dan puyakhapu bermakna kawasan air. Itu sebabnya Danau Sentani dikenal sebagai Negeri Puyaka atau Negeri Nyata.

jernih berkedalaman 50 hingga 70 meter itu hanya berjarak 36 kilometer dari ibu kota Jayapura. Ada sekitar 21 pulau yang menjulang di sekitar kawasan terbesar di Bumi Cenderawasih ini. Daerah seluas seluas 9.630 hektare ini memiliki beragam suku dan adat isitiadat. Variasi itu membuat Sentani memiliki kultur gotong royong yang sangat kuat. Sesama warga saling menghormati keberadaan makhluk ciptaan Tuhan.

Tradisi Negeri Puyakha menjadi identitas masyarakat di sana. Suatu kehidupan yang lekat dengan keagungan alam semesta. Para penduduk percaya akan keberadaan para leluhur. Mereka meyakini kekuasaan sang pencipta. Tanda-tanda itu mengental dalam kehidupan masyarakat Sentani. Semuanya tercermin dalam simbol-simbol etnik yang ada.

Dari lambang tersebut, penduduk setempaat bisa mengetahui latar belakang kedudukan seseorang dalam masyarakat. Tapi, tak seoarng pun yang bisa menjelaskan proses pencuatan kreasi tadi. Bentuk yang ada tertuang begitu saja. Diberikan kepada si pewaris secara turun-temurun dari para leluhur.

Makna karya seni itu bermakna besar ketika simbol digoreskan seorang Ondofolo, pemegang posisi kunci dalam sebuah kampung. Ondofolo juga seseorang yang disegani dan ditaati masyarakat setempat. Motif yang ada bermacam juga menandakan kekuasaan kepemimpinan adat dalam suatu keluarga atau suku. Biasanya, motif tersebut juga digunakan khusus oleh putri sulung, moyang dari suku Pepuho. Tanda tersebut untuk mencirikan pelimpahan tahta dan warisan yang jatuh padanya kelak.

Lain lagi dengan motif Hakhalu yang menggambarkan keberadaan Tuhan, Sang Pencipta langit dan bumi yang memberikan garis keturunan atas seluruh makhluk ciptaan-Nya. Simbol ini dikenakan oleh anak kedua atau bungsu dari moyang suku Pepuho. Kedua lambang tersebut diyakini masyarakat setempat sebagai cikal bakal pengembangan motif seni ukir dan lukis, seperti lukisan kulit kayu.
Ada juga motif bergambar binatang dan tumbuhan yang berada di kawasan Danau Sentani seperti daun sagu, burung cenderawasih, ikan, kura-kura, cicak, tokek, buaya. motif daun sagu, siku burung, kura-kura yang semuanya bermakna atau lambang  kemakmuran.

Warisan Budaya Dunia

Keunikan dan kandungan makna yang mendalam di lukisan kuliat kayu berpotensi dapat menjadi warisan budaya dunia, sepeti halnya Noken yang telah diakui UNESCO. Unik, karena proses pembuatan dan bahan bakunya hanya ada di Danau Sentani. Kulit kayu yang dipakai sebagai media (kanvas) lukisan berasal dari kulit pohon kombow yang hanya terdapat di Sentani.
Dahulu, kulit kayu yang berasal dari kulit inti pohon kombow digunakan sebagai bahan pakaian (daka homo) dan celana untuk kaum pria (cidako) oleh penduduk Asei Besar, Sentani. Namun, kini, peninggalan budaya itu diwariskan sebagai lembaran kulit kayu, media kanvas seni lukis. Mutu lukisan tergantung pada penanganan bahan kulit kayu. Keterlibatan emosi seniman juga berperan dalam hasil akhir kreasi tersebut.
Tak semua jenis pohon ini, dapat diambil kulit kayunya. Selain yang telah cukup umur, dipilih yang memiliki sedikit dahan. Batang pohon ini kemudian ditandai bagian-bagiannya yang akan dipotong. Lembaran-lembaran kulit kayu ini tak bisa langsung digunakan begitu saja.
Bahan dasar untuk melukis ini, lapisan luarnya yang kasar dibuang. Lalu ditumbuk dengan menggunakan plat besi untuk mendapatkan lembaran kulit kayu yang lembut dan lebar. Lebarnya bervariasi, tergantung besar kecilnya diameter batang kayu. Proses menumbuk ini memakan waktu cukup lama dan menguras tenaga. Lembaran-lembaran ini nantinya dicuci, dibuang ampasnya, selanjutnya dijemur hingga kering.
Lembaran-lembar yang telah kering inilah, dijadikan sebagai media untuk mengeskpresikan jiwa seni mereka. Layaknya kehidupan tradisional, seni kerap dimunculkan dengan memanfaatkan alam sebagai unsur yang terpenting. Dalam melukis masyarakat Sentani hanya menggunakan tiga jenis warna. Warna utama adalah hitam yang, dibuat dari jelaga yang dicampur dengan minyak kelapa. Warna lain adalah putih, dari bahan sagu atau kerang. serta warna merah, terbuat dari tanah liat.
Warna dasar tersebut juga memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat suku Asei. Warna putih menggambarkan kebesaran suku. Nuansa merah melambangkan keperkasaan suku. Goresan hitam mencerminkan kehidupan di bumi tidak kekal. Begitulah, seniman Negeri Puyakha, menyembunyikan makna kehidupan yang terkandung di dalam karya seninya. (DAM)